Kamis, 02 Mei 2013

Bobotoh dan “Etik Persib”

[artikel ini merupakan lanjutan dari artikel Bobotoh: Sebuah Nama, Sebuah Konsep]

Sebagai sebuah konsep identitas, “bobotoh” bukanlah konsep yang mati, melainkan terus berevolusi, “unfinished things”, hal ihwal yang belum selesai – apalagi jika kita berbicara tentang bentuk ekspresi dukungan. Siapa yang bisa menolak hal itu?

Jika kita baca artikel-artikel tentang Persib dan bobotoh di zaman dulu, seperti yang ditulis Bapak Usep Romli dan Ibu Ami Raksanagara yang sudah dikutip di artikel sebelumnya, terlihat jelas bagaimana ekspresi ke-bobotoh-an itu terus berubah dan menyesuaikan dengan perkembangan zaman.

Jika dulu tidak ada kekhususan atribut, sekarang atribut bobotoh makin beragam. Jika dulu ekspresi di stadion cukup dengan melambaikan kertas koran dan saputangan, sekarang sudah diperkaya dengan bendera dan banner raksasa sampai api-suar yang beragam warna.

Jika dulu yel-yel suporter hanya “Hidup Persib… Hidup Persib” dan “Halo Halo Bandung”, sekarang di tribun makin kaya dengan –bukan lagi yel tapi…– chant yang berbeda-beda dan terus dan akan kian bertambah. Jika dulu bobotoh “bermusuhan” dengan suporter PSMS dan Persebaya, sekarang  bobotoh punya rival baru dari Jakarta dan [mungkin] Malang. Jika dulu bobotoh bersifat organik, sekarang bobotoh sudah terhimpun dengan berbagai firm, dari firm besar sampai firm-firm kecil.

Bagaimana bisa terjadi perubahan gaya berekspresi itu? Karena manusia – sebagaimana Persib dan bobotoh– hidup di dalam waktu yang terus berjalan. Dari mana asalnya inspirasi perubahan-perubahan baru itu? Dari orang lain yang diantarkan kepada kita melalui berbagai medium: media massa, film, televisi, internet.

Dari sisi ini, Persib dan bobotoh tak ubahnya seperti sejarah Bandung: tumbuh dan berkembang karena berinteraksi bukan hanya dengan Badak dan Maung, tapi juga dengan Jawa, Batak, Minangkabau, Makasar sampai Eropa. Sejarah Bandung modern adalah kisah tentang interaksi pituin dengan “the-others” yang berlangsung secara terus menerus dan nyaris tiada putus.

Interaksi itu seringkali berjalan tidak linier. Dalam banyak waktu dan kesempatan, interaksi itu juga kadang tidak berlangsung mulus. Gesekan sudah pasti tak terhindarkan. Namanya juga interaksi, mustahil tak melahirkan gesekan, tumbukan, dan/atau persinggungan. Yang terpokok adalah bagaimana interaksi itu bisa diperlakukan sebagai energi kreatif yang membuat kita semakin kaya warna.

Dilema atas fenomena interaksi itu diutarakan dengan bernas oleh Wiranatakusuma V, “Dalem Bandung” yang terakhir, Menteri Dalam Negeri Pertama Republik Indonesia, Presiden/Wali Negara Pasundan, yang oleh banyak kalangan dihormati sebagai “Raja Sunda terakhir” dan kadang dianggap sebagai perwujudan modern dari Prabu Siliwangi. Dia pernah berkata: ”Saya rasakan bagaimana sejak kecil hati saya tertarik ke dalam dunia bumiputra, dan saya rasakan pula betapa beberapa hal yang mendesak saya ke dunia Eropa.”

Dalem Bandung Wiranatakusuma V adalah pituin Priangan yang tak perlu diragukan lagi identitas ke-Sunda-annya. Akan tetapi, ke-Sunda-an yang membentuk pribadinya adalah ke-Sunda-an yang terbuka pada wawasan baru, visi baru dan masa depan yang baru. Dia adalah seorang kosmopolit, sebagaimana semua founding-fathers republik ini. Dia bukan hanya diasuh oleh R.Martanagara (Bupati Bandung), R. Ardinagara (Jaksa Bandung), dan R. Suriadiningrat (Camat Cilokotot/Cimahi), tapi juga dibimbing langsung oleh Snouck Hurgronje dan GA Hazeu.

Bagaimana interaksi dan dilema batin itu diselesaikan oleh Wiranatakusuma V? Sederhana: dia menyerahkan dirinya demi masyarakat. Apa pun dan bagaimana pun cara dan jalannya, dan dari mana pun datangnya, selama baik bagi masyarakat Bandung dan Priangan yang dipimpinnya, dia pasti akan melakukannya.
Itulah sebabnya dia menerima saja permintaan untuk jadi Wali Negara Pasundan pada masa revolusi. Sebab, jika bukan dia, bukan tidak mungkin yang menjadi Wali Negara Pasundan adalah orang NICA atau menak yang mementingkan diri sendiri seperti Kartalegawa. Jangan heran ketika Republik Indonesia Serikat [negara federal] itu bubar, Wiranatakusuma V adalah orang pertama yang memutuskan untuk membubarkan Negara Pasundan dan bergabung dengan Republik Indonesia. Sedihnya, setelah itu, beliau harus menerima tuduhan sebagai “separatis”.

Kita punya Wiranatakusuma V dalam sejarah Priangan modern. Dilema interaksi dengan dunia luar yang dialaminya berhasil didamaikan dengan menjadikan rakyatnya sebagai poros dan tujuan utama dari apa pun dilema yang dihadapinya. Jika begitu, bisakah kita sebagai bobotoh, menjadikan Persib sebagai poros dan tujuan utama dari dilema dan persoalan apa pun yang kita hadapi?

Sebagai bobotoh, kita diikat oleh sebuah etika yang kami ingin menyebutnya sebagai “etik Persib”. Dengan “etik Persib” ini, maka yang menjadi penekanan adalah Persib itu sendiri, bukan bobotoh. Apa pun yang kita lakukan, apa pun persoalan yang kita hadapi, sebaiknya kita berpikir dalam kerangka “etik Persib” ini.
Secara ringkas, “etik Persib” ini bisa dirumuskan dengan pernyataan sederhana: “Apa pun yang bisa membawa kebaikan bagi Persib, ayo kita lakukan. Dan apa pun yang membawa keburukan bagi Persib, ayo kita tinggalkan.”

“Etika”, tentu saja, bukanlah “hukum”. “Etika” adalah kesepakatan bersama, seringkali “etika” tidak tertuliskan secara eksplisit; berbeda dengan “hukum” yang serba eksplisit, dan terang benderang bagaimana aturan dan sanksinya.

Semoga saja “etik  Persib” ini bisa diresapkan dengan sebaik-baiknya oleh bobotoh. Sebab, sebagaimana definisi asli “bobotoh” sebagai “purah ngagedean hate atawa ngahudang sumanget ka nu rek atawa keur ngadu jajaten”, eksistensi yang harus bersama-sama kita besarkan dan kita jaga adalah Persib, bukan bobotoh itu sendiri.  Eksistenti bobotoh dan beragam firm-nya boleh saja berganti-ganti, tapi semogalah eksistensi Persib tetap berkibar selamanya.

Pada awal dan pada akhirnya, bobotoh itu untuk Persib. Bukan bobotoh yang sedang “ngadu jajaten”. Yang sedang “ngadu jajaten” adalah Persib.

Karena bendera kita masih sama: PERSIB BANDUNG. Karena firm kita juga masih sama: BOBOTOH. Maka: bersatulah bobotoh sa alam dunya!

Semoga setiap bobotoh diberkahi sikap adil sejak dari pikiran.

from: www.mengbal.com